Mimpi-mimpi yang tertulis di blog ini kelak akan menjadi jejak. Selamat datang di dunia saya, semoga Anda tidak tersesat.
Sunday, October 6, 2013
Sedikit Cerita dari si Mahasiswa Baru
Tuesday, May 14, 2013
Holiday
Sunday, January 6, 2013
2013!
Thursday, December 27, 2012
Sketsa: "Stuck"
"Stuck"
by Ratu Pandan Wangi
Pencil on A4 HVS
26th December 2012
Sunday, November 25, 2012
Agama untuk Manusia
Friday, November 23, 2012
"Membaca" Manusia
Tuesday, November 13, 2012
Sunday, October 21, 2012
Yang Hilang dan Ditemukan
Thursday, September 27, 2012
Bersiap... Mulai!
Saturday, August 25, 2012
Liburan Kali Ini
Friday, July 20, 2012
Things that Make Me Smile
4. Surat informasi Ujian Cambridge
Wednesday, July 11, 2012
Bahagia Itu...
Monday, June 25, 2012
Status
Dalam lingkup pergaulan saya, status yang paling diminati adalah status in a relationship. Banyak remaja ngebet pacaran. Seakan kalau tidak punya pacar berarti tidak laku. Maka lahirlah fenomena galau, PHP (Pemberi Harapan Palsu), TTM (Teman Tapi Mesra) dan sebagainya. Saya sendiri belum berminat mendapat status dalam hal ini. Menurut saya, di umur sekarang ini saya belum bisa memaknai cinta. Dan banyak hal lain yang harus saya kerjakan.
Saya sih oke-oke saja sama teman-teman saya yang pacaran. Berani berkomitmen berarti mereka berani menanggung segala resikonya. Terkadang saya iri pada mereka, tentu. Karena mereka terlihat begitu bahagia dan stabil dengan keberadaan orang yang dicintai serta mencintai. Tapi saya juga punya komitmen dengan prinsip saya: orang yang sukses muda adalah orang yang mengorbankan masa mudanya demi masa depan. Saya ingin sukses muda. So, saya belum mau terlibat jauh dengan cinta-cintaan sebelum saya sukses.
Status lain yang paling diminati adalah popularitas. Seberapa eksisnya dirimu, dengan siapa kau bergaul, apa kegiatanmu. Inilah yang membentuk golongan-golongan dalam pergaulan. Atau lebih tepatnya, kasta. Seolah orang-orang cantik dan ganteng dan kaya tidak pantas bergaul dengan orang miskin yang wajahnya biasa-biasa saja. Ngerinya kalau mengejar status ini adalah, timbul kebiasaan merendahkan orang lain.
Ngomong-ngomong, kenapa saya menulis post tentang status? Beberapa saat lalu saya mengedit halaman About.me saya. Itu adalah website yang memungkinkan seseorang untuk mengumpulkan semua blog, jejaring sosial dan segala account yang dimilikinya di internet ke dalam satu page. Bisa dibilang itu adalah cover dari Curriculum Vitae.
Nah, beginilah penampilan About.me saya:
Saya tidak punya banyak bahan untuk ditulis di bagian biography. Saya hanya nggandul keluarga saya yang notabene adalah keluarga pelukis dan menyebutkan sekolah saya sekarang.
Nah. Itulah yang sedang menari-nari di pikiran saya: saya belum punya status. Oke, oke, saya punya status. Saya pelajar SMA. Saya penulis. Saya pelukis. Tapi bukan itu yang saya maksud. Pelajar adalah status yang saya dapat dengan sendirinya, karena toh sekolah adalah kewajiban. Penulis? Saya belum pernah mempublikasikan karya ke media massa, jadi rasanya belum real. Pelukis? Saya sudah lama vakum melukis.
Jadi, apa sih saya sekarang?
Untuk referensi dalam mengedit About.me, saya melihat-lihat About.me milik orang lain. Rata-rata sudah cukup mapan dan memiliki status yang jelas. Saya juga coba membaca CV milik orangtua dan kakak-kakak saya. Wuiih, saya iri. Mereka punya begitu banyak bahan untuk ditulis. Begitu banyak pengalaman untuk dibanggakan. Ini dia, pengalaman. Tidak semestinya saya membandingkan diri dengan mereka karena mereka sudah menjalani hidup bertahun-tahun lebih lama dari saya. Saya jelas kalah pengalaman.
"Kurangnya pengalaman hanya bisa ditutupi dengan pengalaman"
Maka saya harus terus mencari pengalaman. Sejak masuk SMA saya memang kebanjiran pengalaman, terutama pengalaman berorganisasi. Sangat berguna. Saya jadi menyadari kekurangan saya. Sekarang saya sedang berlatih menjadi manager bagi diri sendiri. Dan mengembangkan semangat serta mimpi saya.
Kalau ditanya, "Statusmu sekarang apa?"
Saya ingin menjawab, "Saya bukan pemburu status. Saya adalah penikmat proses. Bagi saya, status hanya bonus."
Ya, saya ingin menjawab begitu. Sayangnya belakangan ini saya terlalu ambisius. Saya ingin begini, saya ingin begitu. Saya ingin status. Saya ingin diakui. Dan saya harus berusaha untuk mendapatkannya. Target tinggi berarti usaha juga harus tinggi, right?
Sunday, June 17, 2012
Jebakan Waktu
"Masa lalu tak akan pernah kembali dan kita tak bisa tahu secara pasti apa yang akan terjadi di masa depan.
Mengulang-ulang kejadian buruk di pikiran membuat kejadian tersebut lebih menyakitkan ketimbang saat terjadinya. Mengenang terus menerus kejadian baik hanya membuat kita sedih... karena masa lalu tak akan pernah kembali.
Hal-hal yang kita cemaskan 99% tidak pernah terjadi. Pikirkan masa depanmu, tapi tak perlu cemaskan. Tak ada gunanya. Dan jangan lupa bahwa tak ada yang namanya 'selamanya'... Pertahankan apa yang kau miliki sekarang, tapi juga siapkan diri untuk kehilangan.
Kita tidak bisa hidup di masa lalu maupun masa depan. Mencoba hidup di sana hanya membuat kita gila. Tutuplah masa depanmu seperti kau menutup masa lalumu. Hiduplah untuk sekarang. Yang kita lakukan sekaranglah yang akan membentuk masa depan. Masa lalu memang tak bisa diubah... Tapi sekelam apa pun masa lalumu, masa depanmu masih suci.
Kau boleh mengenang masa lalu, tapi jangan menyesalinya. Kau boleh memikirkan masa depan, tapi jangan mencemaskannya. Hiduplah untuk sekarang. Berbahagialah. Memanfaatkan waktu memang baik, tapi alangkah sayang kalau kita tidak menikmatinya. Berbahagialah. Berbahagialah. Bahagia itu sederhana."
- Ratu Pandan Wangi, 17 tahun, dahulu seorang pencemas -
Wednesday, June 13, 2012
Pelajaran Satu Tahun
Sunday, June 3, 2012
Not Simple Questions
- Kalau ada sebatang baja (yang lebarnya 6 inci) diletakkan di antara dua gedung pencakar langit, demi apakah kamu bersedia menyeberanginya? Seribu dolar? Satu juta dolar? Hewan peliharaanmu? Saudaramu? Ketenaran? Renungkanlah dengan seksama...
Kalau melakukan itu, kemungkinan besar aku akan mati. Namun resiko itu layak diambil demi keluargaku.
- Gambarkanlah suatu saat ketika kamu benar-benar merasa terinspirasi.
Ketika aku merasa iri hati. Aku mudah iri hati, namun perasaan negatif itu selalu berusaha kuolah menjadi sesuatu yang positif. Misalnya saja saat aku bertemu dengan orang sukses. Aku merasa iri padanya, lalu perasaan itu kuubah menjadi rasa tak mau kalah. Aku akan berpikir, "Kalau dia bisa, kenapa aku tidak bisa?" Lantas aku akan berlari mengejar orang itu. Inspirasi pun bermunculan untuk mendukung lajuku.
- Kalau kamu bisa menghabiskan waktu satu hari di sebuah perpustakaan besar, mempelajari apa pun sesukamu, apakah yang akan kamu pilih?
Filsafat. Aku akan mempelajari hal-hal absurd yang selama ini membuatku penasaran: ke mana manusia pergi sesudah mati, bagaimana proses terciptanya alam semesta, mengapa manusia diciptakan. Aku ingin mempelajarinya dalam berbagai sudut pandang agama, teori, logika dan imajinasi yang paling liar sekalipun.
- Kalau kamu bisa melewatkan waktu satu jam dengan siapa pun, siapakah yang akan kamu pilih? Mengapa dia? Apa yang akan kamu tanyakan kepadanya?
Aku ingin melewatkan waktu dengan Tuhan. Tak ada yang perlu kutanyakan pada-Nya karena Dia pasti sudah tahu pertanyaan-pertanyaanku.
Thursday, May 24, 2012
AMBISI
Tuesday, May 22, 2012
Target Paling Absurd
"Jadi seniman yang sesungguhnya"
Yang jelas, aku ingin menguasai sebanyak mungkin bidang seni.
Bidang seni yang pernah / sedang kupelajari:
- Seni rupa. Ini adalah pendidikan pertama yang kuterima dan terus kupelajari sampai sekarang.
- Seni tari. Kupelajari selama enam tahun di SD. Aku bukan penari berbakat, guru bilang badanku terlalu kaku. Aku memang tak terlalu suka menari.
- Seni musik. Kupelajari sedikit-sedikit di SMP (recorder dan pianika). Di SMA aku mendalami gitar. Dan astaga, menyenangkan sekali. Sarana meredakan stres.
- Sastra. Kupelajari secara cukup serius sejak kelas VIII. Sepertinya bidang ini yang kelak kutekuni sebagai profesi.
- Seni grafis. Bidang studi seni pilihan di SMA. Sayang aku hanya sempat mempelajarinya selama setahun karena setelahnya pelajaran ini dihapus. Aku pindah seni musik.
- Seni teater. Aku mempelajarinya di teater SMA-ku, Nila Pangkaja. Benar-benar sarana mengolah diri yang bermanfaat. Sejak belajar teater aku merasa kepribadianku berkembang.
Selain itu dalam waktu dekat aku ingin mempelajari:
- Seni digital. Kenapa? Sambil menyelam minum air: sambil belajar seni, belajar teknologi.
- Seni fotografi. Penting.
- Seni fashion. Menarik. Dan sangat menjual.
Kuharap dengan mengetahui dan menguasai berbagai bidang seni, saat aku menciptakan suatu karya di bidang tertentu, karya itu memuat nilai dan keindahan dari bidang-bidang seni lainnya.
Wednesday, April 18, 2012
Dari Untitled untuk Untitled
Suatu hari, waktu aku masih di Untitled, Ita mengusulkan sebuah permainan saat pelajaran BK. Teman-teman langsung mencercanya. Itu sih karena dia nggak disukai di kelas. Padahal permainannya menarik: kami (saat itu jumlahnya 30 orang, karena dua orang nggak masuk) menyiapkan selembar kertas yang bertuliskan nama masing-masing. Lalu kertas itu digilir ke anak-anak lain. Tiap anak yang dapat kertas itu harus menulis pesan atau kesan tentang orang yang namanya tercantum di sana.
So, inilah komentar anak-anak Untitled tentangku…
lebih semangat lagi (okeeeh)
tidak terdefinisi (ini pasti Akbar, soalnya tulisannya paling jelek)
unik sejak SMP (kalau ini pasti Verly, soalnya tulisannya terjelek kedua)
terdampar di pinggir jalan :* (mungkin Sani. Dulu dia sering ngeboncengin aku)
Diam-diam tanda tak jelas (ambigu)
pinter akting, baik, g pelit (pinter akting? Waow thanks)
pinter baik menghibur (menghibur? Oke kadang aku memang jadi badut kelas)
Netral, unik, sulit dijelaskan (netral? Ya, itu sangat aku)
Pandan, sholat yuk… I <3 U (thanks Ukhti)
oh kamu… masih tanpa ekspresi (aku sedang berusaha berekspresi :D)
Tak sewangi namamu :p (oke, aku tau aku bauk)
Gue suka gaya loe! :D (gue juga suka gaya loe)
Pandan tu gokil tapi gk keliatan expresinya :B (ada berapa komentar nih yang menyinggung ekspresi?)
OK kamu tu jiwa pemimpin. (waa thanks. Semoga ya)
Datar… (ya begitulah)
cupu main UNO nya (ini Hanif -_- Pas itu memang UNO lagi ngetren di kelasku)
Si Bunda yg baik bgt. Maksh buat ndengerin keluhku slma ini :) Always love u :D (April. Aku sama dia memang jadi ibu-anak gak sah)
Pandan baik, aku suka (makasih. Semoga pas aku jahat, kamu juga suka)
Semangat! (yeah!)
Aku suka kamu <3 (jangan salah, ini tulisan cewek)
Sahabat selamanya :D (dari Faidz. Ini salah satu komentar favoritku)
Diam-diam menghanyutkan (sepaket sama komentar “Diam-diam tanda tak jelas” tadi)
Expresinya mana??? :O (mengingatkanku kalau dulu ada orang yang rajin mengatakan ini padaku)
Unique (Sholeh. Selalu main aman)
Aku sayang Pandan! muach! (dari Aaph. Aku juga sayang kamu Aaph…)
Asyik, ra jelas, temanku anak belakang… Hhaha… (pasti Salmon. Dulu aku, dia dan Aaph memang sering jadi anak “terbelakang”)
Maho… wah wis kebak… Ati2 disurung kenek bis (Lukman. Kata-kata “Ati2 disurung kenek bis” ngetren dari Memet)
ASYIK! BGT! >< (oke… Permainannya memang asyik ya)
Pandan baik, lucu, muach :D (muach :*)
Komentar dari teman-teman buatku kelihatan aman. Tapi beberapa anak yang kurang disukai di kelas dapet komentar-komentar pedas, bahkan sampai kebawa di Makrab. Yaah, tapi berkat permainan ini, kita jadi lebih tahu pendapat orang lain tentang kita. Dan bisa lebih introspeksi ;)
Selembar kertas yang berisi komentar dari Untitled itu… jadi salah satu hartaku…
Saturday, April 7, 2012
Surat untuk Diriku di Masa Depan
Halo, Pandan. Ini Pandan. Sekarang umurku 17 tahun lebih beberapa hari. Aku menulis padamu, diriku di masa depan, karena aku ingin kau menjadikan masa lalumu sebagai dasar. Karena berdasar pengalaman, mudah melupakan diriku yang sebenarnya saat lingkungan begitu menekan.
Saat ini dini hari. Seharusnya aku mengerjakan laporan penelitian Bahasa Indonesia yang sudah kadaluwarsa. Tapi seperti biasa aku menundanya. Aku memang sering menunda pekerjaan sampai batas terakhir, menikmati adrenalin yang berpacu dan kecepatan otakku yang bertambah beberapa kali lipat saat ngebut dalam waktu sempit. Please. Ini nggak bagus, pekerjaan jadi kurang maksimal. Pastikan kau memperbaiki kebiasaan satu ini.
Ingatkah kau, menjelang ulang tahun ke-17 kondisi psikismu benar-benar kacau, terkacau yang pernah kau alami? Emosi meluap. Semua kelihatan buruk. Setiap hari rasanya ingin menangis. Tapi aku tidak menangis, karena itu bodoh. Bukan karena menurutku menangis tak bisa menyelesaikan masalah... melainkan karena hidupku sungguh tak pantas untuk ditangisi. Tapi akhirnya... saat benar-benar tak bisa menahan lagi... aku pun menangis... Terima kasih untuk seorang sahabat yang begitu berharga, yang saat itu menemani dan menangis bersamaku. Sejak itu perlahan kondisi membaik. Yah, seseorang perlu jatuh sebelum bangkit.
Pandan di masa depan, kau harus bekerja keras untuk mengejar ketertinggalanmu dalam bidang akademis. Sejak masuk SMA aku memang jadi tidak terlalu memperhatikan pelajaran sekolah. Telat dan bolos adalah rutinitas. Mengerjakan tugas merupakan sesuatu yang tak wajar. DASAR BODOH. Ini harus diperbaiki sesegera mungkin. Aku tak memintamu jadi bureng, aku hanya ingin kau lebih menghargai SPP yang dibayar orang tuamu.
Jangan lupa cita-citamu: menciptakan karya yang bisa menginspirasi banyak orang di dunia. Kau harus lebih mengembangkan kemampuan menulis dan menggambarmu. Banggakan orang tuamu dengan itu. Ingat, kau belum memberikan banyak hal berarti untuk mereka. Yang kau lakukan hanya mengabaikan dan menyakiti. Berterimakasihlah. Balas budilah.
Oh ya. Kuharap di masa depan kau lebih serius soal cinta. Cinta, terlebih komitmen, saat ini memang berada di urutan kesekian daftar prioritasku, karena hidup sudah cukup ruwet tanpa perlu ditambahi olehnya. Aku juga lebih sering jatuh cinta pada cinta daripada dengan orang itu sendiri. Kuharap hal ini berubah... tapi nanti-nanti saja, saat aku sudah lebih dewasa.
Ah... Ngomong-ngomong soal dewasa aku jadi teringat kata-kata seorang temanku, "Saat kita merasa dewasa, berarti kita belum dewasa. Sedangkan kalau kita merasa belum dewasa, berarti kita sudah dewasa."
Kedewasaan. Begitu pelik jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkannya. Sejauh ini aku baru mendapat rumusnya. Dewasa = tanggung jawab + rasionalitas + ilmu + kejujuran + cinta. Garis bawahi ini: kejujuran. Sulit menyampaikan kebenaran, terutama menerimanya. Itulah masalahku sekarang. Entah anugerah entah musibah, aku memiliki ekspresi wajah datar. Poker face. Dan poker voice. Itu membuatku jarang ketahuan kalau berbohong. Biasanya hanya kulakukan untuk mengelak dari guru-guru, tapi aku takut jadi kebiasaan. Pandan di masa depan, ini termasuk hal yang harus kau perbaiki.
Dari tadi aku hanya ngomong soal hal yang harus kau perbaiki, ya. Memangnya tak bisa kulakukan sekarang? Well, saat ini aku sedang menulis apa yang bisa disebut targetku. Dan yang kumaksud Pandan di masa depan bukan hanya diriku bertahun-tahun mendatang, melainkan juga diriku beberapa jam maupun beberapa menit dari sekarang. Jadi perubahan bisa dan harus kulakukan sesegera mungkin.
Untuk jaga-jaga bila kau kehilangan dirimu lagi, akan kutulis hal-hal yang bisa mengingatkanmu. Pertama, jangan ragu dengan keyakinanmu. Kau memperolehnya setelah pencarian pelik seumur hidupmu. Saat ini aku memegang teguh keyakinan itu meski belum bisa sepenuhnya hidup menurutnya. Kedua, kau bercita-cita memperkaya dunia seni. Sekalipun kelak kau jadi akuntan atau dokter, jangan lupa untuk terus berkarya. Ketiga, keluarga dan teman-teman adalah hal paling berharga dan tak tergantikan. Maka jagalah. Dan jangan lupa untuk bahagia... Kau berhak akan itu.
Ingatkah kau, kau sering berkeliaran dengan Nia dan mendapat pengalaman-pengalaman tak terduga. Salah satunya kami pernah berjalan-jalan di Malioboro dan berpapasan dengan lelaki penjual roti. Dia bukan penjual roti biasa. Sepasang matanya tertutup selaput putih dan ia berjalan dibantu tongkat. Beberapa hari kemudian, kami bertemu dengannya lagi cukup jauh dari kawasan Malioboro. Sungguh mencengangkan perjuangannya. Saat orang-orang buta lainnya hanya menjadi beban masyarakat, lelaki itu berjualan dengan resiko besar demi bertahan hidup. Untuk menghargai perjuangannya, kami membeli rotinya. Aku ingat roti itu terasa asin karena bercampur dengan air mata haru yang mengalir dalam diriku.
Ingatlah lelaki itu saat kau putus asa. Kalau dia saja berjuang, kenapa kamu tidak?
Terakhir, kuharap kau berjalan lebih cepat. Secara konotasi dan denotasi. Siapa cepat dia dapat. Jangan mau kalah dengan orang lain. Jangan bermalas-malasan terus, wujudkan mimpimu!












